RealVantage Mulai Kenalkan Platform “Co-Investing” Real Estat di Indonesia

Daftar Isi

  1. Model bisnis
  2. Perkembangannya di Indonesia

INDONESIA, Oct. 06, 2020 /DailySocial/ – RealVantage, platform co-investing real estat atau properti berbasis di Singapura berniat matangkan bisnisnya di Indonesia. Realisasinya mereka telah tunjuk Teddy Tjandra sebagai Country Managing Director Indonesia. Kantor representatif pun didirikan untuk menunjang aktivitas pengembangan bisnis, pemasaran, dan penjualan.

DailySocial berkesempatan berbincang dengan Teddy untuk mengetahui lebih detail mengenai apa yang tengah mereka persiapkan di pasar Indonesia. Teddy sebelumnya dikenal sebagai founder platform edtech Sukawu. Sukawu sendiri masih beroperasi sampai saat ini sebagai proyek sosial.

Model bisnis

Mengawali perbincangan, Teddy banyak menjelaskan tentang model bisnis RealVantage. Ia mengumpamakan perusahaannya tersebut layaknya sebuah Private Equity, hanya saja berinvestasi pada proyek real estat seperti gedung, hotel, atau residensial. RealVantage memungkinkan investor individu untuk turut andil dalam pengembangan proyek properti.

Sejauh ini, proyek properti yang ditawarkan berada di Australia, Amerika Serikat, dan Inggris. Tapi hadirnya Teddy dan tim tidak menutup kemungkinan untuk mengeksplorasi peluang kerja sama dengan pengembang di Indonesia.

“Biasanya kalau investasi di properti harus beli satu unit [keseluruhan]. Tapi kalau unit tersebut bentuknya gedung atau hotel, maka nilainya tidak terjangkau untuk perorangan. RealVantage menjembatani kesenjangan tersebut, dengan mencarikan properti yang bernilai, dengan biaya akuisisi rendah, dan menghasilkan pemasukan reguler; untuk dipaketkan pada kalangan investor individu,” terang Teddy.

Kalangan individu yang dimaksud adalah High Network Individual atau Accredited Investor. Sesuai regulasi di Singapura, biasanya kalangan tersebut setidaknya memiliki satu dari tiga kriteria berikut: (1) memiliki pemasukan SGD300 ribu per tahun, (2) memiliki net investable asset minimal SGD1 juta, atau (3) memiliki net personal aset termasuk properti minimal SGD2 juta.

Sesuai aturan Monetary Authority of Singapore, investasi yang diberikan juga minimal senilai SGD10 ribu atau sekitar 100 juta Rupiah.

Kriteria tersebut yang juga turut membedakan konsep co-investing RealVantage dengan model equity crowdfunding. Di Indonesia, platform seperti CrowdDana tawarkan model equity crowdfuding agar masyarakat luas dapat gotong-royong membiayai sebuah properti — dengan nilai investasi dan proyek yang jauh lebih kecil.

“Konsepnya hampir mirip [dengan equity crowdfunding], investor akan menjadi shareholder. Hanya saja untuk co-investing, setiap real estate yang ditawarkan akan dibuatkan special purpose vehicle yang terdaftar di otoritas Singapura dan semua dana dikumpulkan dalam escrow bankaccount. RealVantage akan mengelola dana bersama partner lokal yang ditunjuk,” ujar Teddy.

Teddy turut menjelaskan, properti dipilih karena menjanjikan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan instrumen investasi lainnya, khususnya jika berbicara long-term investment. “RealVantage juga memungkinkan investor melakukan diveristy asset. Jadi kalau dia punya 3 miliar Rupiah, bisa diinvestasikan ke beberapa proyek properti. Kami akan bantu lakukan due diligence, financial projection dengan mekanisme teknologi [berbasis AI] sehingga membuat semua prosesnya transparan,” ujarnya.

Setiap investor individu yang terlibat, namanya tercatat di Accounting and Corporate Regulatory Authority yang dapat diakses secara publik. Proses pencatatan dan pengelolaan dokumen dieksekusi secara digital, sehingga memungkinkan diakses dari mana pun – termasuk proses transaksinya. Investor juga akan mendapatkan pembaruan informasi terkait perkembangan asetnya setiap 3 bulan sekali, termasuk mendapatkan bagi hasil deviden dalam rentang waktu yang sama.

“RealVantage mengakuisisi satu building penuh, kemudian membuat atau meningkatkan value added di dalamnya. Imbal hasil yang didapat biasanya maksimal di rentang 3-5 tahun. Keuntungannya juga bisa didapat dari biaya rental atau kenaikan price appreciation. Investor juga bisa exit dengan dijualkan propertinya, rata-rata ada kenaikan minimal 3-5% setiap tahunnya,” imbuh Teddy.

Perkembangannya di Indonesia

Di Jakarta, Teddy memimpin tim business development dan marketing. Untuk saat ini, setiap sales yang berhasil dikonversi akan ditujukan langsung (transaksinya) ke Singapura. Target utamanya tahun ini adalah membangun operasional dan membuka pasar di Indonesia.


RealVantage adalah platform investasi bersama yang mengizinkan investor kami untuk melakukan diversifikasi antar pasar, sektor, dan strategi investasi.

Kunjungi halaman utama kami untuk mengetahui lebih lanjut!

Daftar di RealVantage